Tri Pusat Pendidikan Berjalan, Setengah Masalah Remaja Terselesaikan

Gambar : Ilustrasi Kenakalan Remaja (infiniteens.id)

Tri Pusat Pendidikan Berjalan, Setengah Masalah Remaja Terselesaikan

Korelasi antara penerapan Tri Pusat Pendidikan dengan usaha penanggulangan kenakalan remaja.

Oleh: Muhammad Guntur Kurniawan, S.Pd.

Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Tanggulangin

 

Sekira seabad yang lalu, salah satu putra bangsa tercerdas yang pernah dimiliki Indonesia (Ki Hajar Dewantara), mencetuskan gagasan cemerlang. Gagasan tersebut kini lebih dikenal dengan sebutan Tri Sentra Pendidikan atau Tri Pusat Pendidikan. Ide mengenai bagaimana seharusnya pendidikan digulirkan. Ide tentang kondisi ideal sebuah iklim pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tri Pusat Pendidikan (tiga pusat pendidikan adalah) adalah konsep yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yang memuat gagasan tentang pembagian tiga pusat lingkungan pendidikan. Tiga lingkungan tersebut meliputi: 1)lingkungan keluarga; 2)lingkungan sekolah; 3)lingkungan masyarakat. Mengapa hal ini perlu digaungkan kembali? Karena yang dipahami banyak orang, satu-satunya yang bertanggung jawab penuh dalam pendidikan adalah lingkungan sekolah. Mengapa ide ini perlu dipaparkan kembali? Karena yang awam tahu, satu-satunya unsur dalam pemenuhan target pendidikan adalah lingkungan sekolah. Padahal kita tahu, jika berangkat dari Tri Pusat Pendidikan, pandangan tersebut salah besar.

Kalau Anda baca berita di surat kabar, atau mendengarkan radio, atau barangkali menonton siaran televisi, kira-kira, apa berita yang setiap hari muncul? Tidak peduli pagi, siang, malam. Tidak peduli apa momennya. Berita apa? Betul! Kenakalan Remaja. Mulai dari tawuran antarsekolah, pesta miras, penyalahgunaan narkoba, perilaku seks menyimpang, hamil di luar nikah, bahkan sampai pembunuhan. Beberapa tindak kriminal tersebut sebenarnya sudah tidak bisa dikategorikan sebagai 'kenakalan' semata. Jika boleh menggunakan diksi yang agak keras, hal-hal tersebut pantasnya disebut sebagai kejahatan, kebiadaban, kerusakan. Dan itu terjadi pada remaja kita. Remaja di Indonesia.

Narasi yang biasanya mengiringi berita tersebut adalah, "Siapa yang paling layak dijadikan kambing hitam? Siapa yang pantas disalahkan?" Beragam. Opini publik terbelah. Kadang media mengatakan yang salah adalah sekolah. Sementara masyarakat mengatakan yang salah adalah keluarga. Di sisi lain, sekolah menuding keluarga adalah biang keladi permasalahan. Sebenarnya siapa yang salah dalam konteks kenakalan remaja? S E M U A. Semua pihak berkontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam proses sampai kejadian kenakalan remaja. Lingkungan keluarga yang jauh dari kata kondusif. Lingkungan masyarakat yang (seolah) memberi jalan bagi para remaja untuk melancarkan aksi kenakalan. Lingkungan sekolah yang tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai garda terdepan pendidikan.

Karena kita semua berkontribusi 'menyumbang kesalahan', idealnya kalau mau memperbaiki keadaan, kita semua bahu-membahu bergandengan tangan. Kembali pada konsep Tri Pusat Pendidikan di atas. Keluarga, sebagai 'madrasah pertama' setiap siswa, dalam beberapa hal memegang peranan sangat penting. Dalam teori psikologi, perkembangan kognitif dan karakter anak terbentuk saat usia 0-5 tahun. Berada di mana anak ketika usia tersebut? Betul, di keluarga. Maka hendaknya semua keluarga menyadari betapa penting peran mereka. Ibu, Bapak, Kakek, Nenek, Saudara, harus menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif.

Selanjutnya, sekolah. Sekolah adalah institusi formal yang jamak diketahui memegang peranan paling penting dalam proses pendidikan. TK 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, Kuliah 4 tahun. Total 18 tahun seorang anak mengenyam bangku pendidikan. Itu belum jika meneruskan S-2 dan S-3, atau jika berada di lingkungan pendidikan berbasis agama (pesantren, seminari, pasraman, dsb) yang lazimnya lebih lama beberapa tahun daripada sekolah formal. Dengan jangka waktu selama itu, pengintegrasian nilai karakter menjadi sangat vital. Anda bisa membayangkan apa yang terjadi pada anak-anak kita, jika fungsi sekolah sevital ini tidak berjalan. Atau berjalan tidak pada jalurnya. Remuk.

Terakhir, lingkungan masyarakat. Saya akan mencontohkan dengan studi kasus berikut. Rendy, seorang anak yang datang dari keluarga sederhana. Dari rumah, oleh orangtuanya, Rendy diajarkan betapa penting akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu ajaran keluarganya, Rendy harus bertanggung jawab atas tugas yang diemban sesuai statusnya. Berstatus pelajar, maka tugas utamanya belajar. Berstatus anak, tugas utamanya berbakti pada orang tua. Berstatus warga negara, tugas utamanya mengabdi pada bangsa dan negara. Pengajaran akhlak tersebut dikuatkan oleh lingkungan sekolah yang mendahulukan akhlak terlebih dahulu, baru kemudian ilmu pengetahuan. Ringkasnya Rendy dikondisikan, baik oleh keluarga maupun sekolah, memiliki akhlak yang bagus. Namun, malapetaka itu datang, melalui lingkungan masyarakat. Di lingkungan tempat tinggal Rendy, tokoh masyarakatnya abai meskipun jamak merebak kenakalan remaja. Tokoh agamanya sangat permisif pada 'dosa-dosa' umat. Rendy terpengaruh. Ia mulai melupakan tugas utamanya untuk belajar, karena lebih sering ikut teman-teman di sekitaran rumahnya untuk pesta miras. Ia mulai melalaikan tugasnya berbakti kepada orang tua, dan mulai mencuri uang serta perhiasan di rumah untuk ikut-ikutan mencoba narkoba dengan teman-temannya. Ia menyingkirkan kepedulian mengabdi pada bangsa dan negara, karena ikut merusak fasilitas umum dengan tindakan vandalisme (corat-coret mural) tak berfaedah.

See? Percuma dua lingkungan terkondisikan, jika satu saja luput. Anak akan tetap rusak. Sebaliknya, jika semua unsur dalam Tri Pusat Pendidikan berkolaborasi secara kontinyu mengondisikan lingkungan terbaik untuk pertumbuhan anak, saya yakin setengah masalah remaja akan terselesaikan dengan sendirinya. Bahkan tidak perlu terjadi. So, tugas utama dan pertama untuk kita adalah memahami ini: bahwa usaha perbaikan pendidikan adalah kerja bersama. Bukan one man show. Berhenti saling menyalahkan, mari kita bergandengan tangan. Masa depan gemilang sudah menunggu. Untuk mereka yang tidak kenal lelah berjuang, setiap waktu.